Toleransi Agama Antar Umat Indonesia

Toleransi Antar Umat Indonesia

Pada akhir-akhir ini ramai di bicarakan di tengah penduduk tentang betapa pentingnya toleransi di dalam beragama. Islam telah berikan pedoman sedemikian jelas, bahwa agama tidak boleh di paksakan. Di sebutkan pula di di dalam al Qur’an bahwa, semua orang di persilahkan pilih agama sebagaimana yang di percayai masing-masing. Lakum di inukum wa liya diin’ atau Untukmu agamamu dan untukku agamaku’.

Dalam beragama, jika seseorang memaksakan tidak boleh, maka lebih-lebih terhitung mengganggu, tentu tidak di benarkan. Di sepersilahkan seseorang pilih agama dan kepercayaannya masing-masing. Manakala sikap dan pandangan itu di implementasikan di dalam kehidupan sehari-hari oleh pemeluk agama, maka sebenarnya tidak akan berlangsung masalah. Mereka yang beragama Islam beribadah ke masjid, mereka yang kristen ke gereja, dan demikian pula lainnya.

Agama terhitung memberi saran agar umatnya menjadi yang terbaik, yaitu saling mengenal, memahami, menghargai, mengasihi, dan lebih-lebih terhitung saling bertolong menopang di di dalam kebaikan. Umpama semua umat beragama, apa-pun agamanya, sanggup menyatakan tabiat paling baik sebagaimana perintah ajaran agamanya, maka sebenarnya tidak akan berlangsung persoalan berkaitan agama orang lain di dalam merintis hidup sehari-hari.

Toleransi baru menjadi mulai tidak terpelihara oleh sebab di pada mereka yang tidak sama merasakan ada sesuatu yang mengganggu. Bisa jadi, problem itu sebenarnya bukan bersumber berasal dari agamanya, tetapi berasal berasal dari aspek lain, jika berasal dari ekonomi, sosial, hukum, keamanan, dan semacamnya. Melihat orang atau sekelompok orang terlalu memonopoli kegiatan ekonomi agar merugikan atau mengganggu orang atau grup lain, maka terlihat rasa kecewa dan atau sakit hati. Demikian pula jika terkandung sekelompok orang tidak mempedulikan dan lebih-lebih berperilaku merendahkan, maka orang lain di masud mulai terganggu.

Hal demikian tersebut kemudian menjadikan pihak lain mulai di rugikan., di rendahkan, atau di kalahkan. Padahal samasekali mereka memeluk agama berbeda, tetapi jika mereka masih sanggup melindungi hubungan baik, berperilaku adil, jujur, menghargai pihak lain, maka tidak akan berlangsung atau menimbulkan persoalan di dalam kehidupan bersama. Semua orang akan mulai bahagia di saat di perlakukan bersama dengan cara baik, darimana pun datangnya kebaikan itu. Orang yang berperilaku baik akan di terima oleh siapapun.

Sebaliknya, di saat telah tidak sama suku, etnis, atau lebih-lebih agama. Tetapi kehadirannya terhitung di rasakan mengganggu, maka akan melahirkan rasa tidak senang. Jangankan tidak sama agama, etnis atau bangsa, namun sesama bangsa, etnis, dan agama. Sama sekali terhitung akan bermusuhan manakala nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kebenaran di ganggu. Oleh sebab itu sebenarnya, bukan perbedaan agama yang di persoalkan, melainkan tabiat yang merugikan dan mengganggu itulah yang tetap menjadikan orang atau sekelompok orang tidak bertoleransi.

Tidak jarang dan di mana-mana sanggup di saksikan, di pada orang yang tidak sama suku, bangsa dan agamanya tetapi masih terlalu rukun. Di pada mereka yang berbeda, terhitung tidak sama agama, saling menyapa, berbagi kasih sayang, dan terhitung tolong menolong. Hal demikian itu, oleh sebab di pada mereka saling mengenal, menghargai. Bersama dengan cara tetap melindungi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan, kejujuran, dan kebenaran, sebagaimana di kemukakan di muka. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *