Bolehkah Mengeraskan Bacaan Niat Puasa Ramadhon sesudah Sholat Tarawih, Bagaimana Tata?

Niat menjadi salah satu rukun puasa. Tidak sah puasa seseorang tanpa dimulai dengan niat. Khusus puasa Ramadhon, waktu niatnya antara terbenamnya sang surya hingga timbul fajar shadiq, atau dari maghrib hingga subuh.
Beberapa besar kalangan muslim Indonesia melafalkan niat puasa Ramadhon sesudah melaksanakan shalat tarawih dan witir di masjid, musala, atau langgar. Dengan pengarahan imam, niat puasa Ramadhon dijalankan masing-masing secara bersama-sama dengan jemaah lainnya.
Umumnya, bacaan niat puasa Ramadhon sesudah tarawih dikeraskan. Pertanyaannya, bagaimana hukum mengeraskan niat puasa Ramadhon? Apakah niat cukup dilafalkan secara verbal saja?
Perlu dikenal, daerah niat yaitu di dalam hati setiap link sbobet88 orang yang hendak melaksanakan ibadah, termasuk puasa Ramadhon. Dengan demikian, niat puasa yang dilafalkan secara berjemaah sesudah tarawih tidak cukup tanpa disertai niat dalam hatinya.
Dalam mazhab Imam Syafi’i, melafalkan niat puasa Ramadhon bersama-sama sesudah tarawih boleh-boleh saja. Namun konsisten sepatutnya disertai niat dalam hati. Niat yang dilafalkan secara verbal sunnah saja.
Hal ini sebagaimana termaktub dalam kitab Fathul Muin karya Imam Zainuddin al-Malibari berikut.
 وفرضه أي الصوم نية بالقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب
Artinya: “Fardhu-nya puasa yaitu niat dengan hati, dan tidak disyaratkan me-lafadz-kannya, melainkan disunahkan (melafalkan).”
Mengeraskan Niat Menurut Mazhab Lain
Memberitakannya bincangsyariah.com, menurut anggapan ulama mazhab Imam Maliki, melafalkan niat bertentangan dengan yang lebih utama, kecuali bagi orang yang ragu-ragu, maka disarankan melafalkan niat untuk menolak was-was.
Padahal dalam mazhab Imam Hanafi, melafalkan niat itu bid’ah karena tidak ada riwayat Rasulullah SAW dan para temannya. Akan melainkan dianggap baik untuk menolak was-was.
Pun imam Ibnu al Qayyim di dalam Zadul Maad mengecam keras mereka yang membolehkan melafalkan niat. Beliau tidak sependapat dengan anggapan imam Syafi’i. Karena menurut beliau Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkan hal itu.
Sementara, Syekh Athiyyah Shaqar di dalam Fatawa Al Azhar mengatakan bahwa hukum yang mengungkapkan bahwa melafadzkan niat itu yaitu bid’ah, anggapan ini tidak dapat diterima, apalagi hingga mengatakan bid’ah dhalalah.
Karena para ulama’ besar memperbolehkannya, mereka menyebut sunnah, mustahab atau mandub dalam suatu situasi tertentu, seperti dalam situasi was-was. Sebagaimana dikenal bahwa melafalkan (dengan verbal) niat itu tidak mendatangkan mudarat, justru sekali-sekali mendatangkan manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *